Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Pagi, Siang, Sore,Malam. Postingan ini merupakan postingan pertama penulis yang memuat makalah Serangan Umum 1 Maret 1949. Postingan dan makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Pak Ardhy Yuwono, guru Sejarah Indonesia. Mengenai penulis, Anda bisa melihatnya di bagian kanan pada ikon garis tiga. Dalam postingan ini, penulis juga sengaja menggunakan skrip anti copy-paste untuk menghindari terjadinya copy-paste sembarangan. Berikut makalahnya:
MAKALAH SERANGAN UMUM 1 MARET 1949
Guru Pembimbing : Ardhy Yuwono
Disusun oleh :
Muhammad Sa’id Sholahudin
3043642201
XI IPS 2
SMA NEGERI 51 JAKARTA
2021
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Serangan Umum 1 Maret 1949”.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu untuk memenuhi tugas dari Bapak Ardhy Yuwono selaku guru Sejarah Indonesia. Disamping itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca maupun penulis sendiri mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Ardhy Yuwono selaku guru Sejarah Indonesia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna baik dari segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik beserta saran untuk menyempurnakan makalah ini.
Jakarta, 22 Maret 2021
Muhammad Sa’id Sholahudin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAN........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang Masalah.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan................................................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN............................................................................................ 3
2.1 Penyebab Meletusnya Serangan Umum 1 Maret 1949........................................... 3
2.2 Proses Perencanaan sampai Berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949....... 3
2.3 Dampak dari Adanya Serangan Umum 1 Maret 1949............................................ 8
2.4 Perkembangan Kontroversi Tokoh Penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949..... 8
2.5 Fakta-Fakta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949............................................... 10
2.6 Sistem yang Digunakan pada Serangan Umum 1 Maret 1949.............................. 10
BAB III : PENUTUP................................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan............................................................................................................ 12
3.2 Saran...................................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada pertengahan bulan Desember 1948, Jenderal Simon Hendrik Spoor menginstruksikan kepada tentara Belanda di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra untuk melaksanakan Operatie Kraai atau Operasi Gagak. Operasi tersebut menandai dimulainya Agresi Militer Belanda II. Pada pagi hari tanggal 19 Desember 1948, Belanda mengebom lapangan terbang Maguwo di Yogyakarta dengan 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk diikuti dengan penerjunan tentara Belanda disertai persenjataan berat. Kemudian pasukan tersebut bergerak ke arah Kota Yogyakarta. Dalam aksi militer tersebut, beberapa petinggi Republik Indonesia, seperti Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sempat ditawan. Namun, sebelum itu, telah dibentuk Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi, Sumatra Barat dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pemimpinnya. Selain itu, TNI juga terpaksa harus keluar dari Kota Yogyakarta karena markasnya telah diduduki Belanda. Sebulan kemudian, TNI mulai menyusun strategi guna mengadakan serangan balik terhadap aksi militer Belanda tersebut. Kemudian diputuskanlah Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan Ibu Kota Yogyakarta sebagai sasaran utamanya.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa penyebab meletusnya Serangan Umum 1 Maret 1949?
2) Bagaimana proses perencanaan sampai berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949?
3) Apa dampak dari adanya Serangan Umum 1 Maret 1949?
4) Bagaimana perkembangan kontroversi tokoh penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949?
5) Apa saja fakta-fakta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949?
6) Sistem apakah yang digunakan pada Serangan Umum 1 Maret 1949?
1.3 Tujuan Penulisan
1) Untuk mengetahui penyebab meletusnya Serangan Umum 1 Maret 1949.
2) Untuk mengetahui proses perencanaan sampai berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949
3) Untuk mengetahui dampak dari adanya Serangan Umum 1 Maret 1949.
4) Untuk mengetahui perkembangan kontroversi tokoh penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949.
5) Untuk mengetahui fakta-fakta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.
6) Untuk mengetahui sistem yang digunakan pada Serangan Umum 1 Maret 1949.
1.4 Manfaat Penulisan
1) Bagi penulis, yaitu meningkatkan minat baca, menambah wawasan dan mengasah kemampuan penulis untuk berpikir kritis serta dapat mempelajari bagaimana cara membuat makalah yang baik dan benar.
2) Bagi pembaca, yaitu sebagai referensi atau sumber untuk melakukan penelitian sejarah bangsa Indonesia dan juga untuk menambah wawasan pembaca sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyebab Meletusnya Serangan Umum 1 Maret 1949
Seperti istilah “Ada asap pasti ada api”, pecahnya serangan ini karena sikap Belanda yang menolak dan bahkan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB untuk melakukan gencatan senjata. Tak hanya itu, pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Operatie Kraai (Operasi Gagak) atau yang dikenal sebagai Agresi Militer II dengan Kota Yogyakarta sebagai sasaran utamanya.Sementara itu, Belanda menamai aksi militer ini sebagai “Aksi Polisional”. Aksi militer tersebut dimulai dengan pengeboman lapangan terbang Maguwo di Yogyakarta oleh beberapa pesawat tempur milik Belanda yang dilanjutkan dengan penerjunan tentara Belanda disertai pengerahan persenjataan berat, seperti tank, panser, dan kendaraan lapis baja lain. Dalam aksinya tersebut, Belanda berhasil menaklukan Ibu Kota Yogyakarta hanya dalam hitungan beberapa jam saja dan juga menangkap para petinggi RI, seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, serta beberapa tokoh penting lainnya. Untungnya, sebelum tokoh-tokoh tersebut ditangkap, telah dibentuk Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi, Sumatra Barat dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pemimpinnya. Atas aksi militer tersebut, situasi Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI saat itu sangat tidak kondusif. Keadaan tersebut diperparah dengan propaganda Belanda kepada seluruh dunia yang menyatakan bahwa Pemerintah RI dan TNI sudah tidak ada.
2.2 Proses Perencanaan sampai Berlangsungnya Serangan Umum 1 Maret 1949
Setelah Yogyakarta dikuasai oleh tentara Belanda, Panglima Besar Angkatan Perang RI, yaitu Jenderal Sudirman mengeluarkan Perintah Kilat No.1/PB/1948 yang isinya pemberitahuan bahwa Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata dan Ia juga memerintahkan untuk semua Angkatan Perang RI untuk menjalankan Perintah Siasat No.1/1948. Isi Perintah Siasat tersebut adalah pelaksanaan perang rakyat semesta dengan mengikutsertakan semua tenaga rakyat, termasuk kekayaan rakyat serta mengubah strategi pertahanan keamanan dari sistem linear diubah menjadi sistem wehrkreise atau daerah pertahanan.
Perintah tersebut segera direspon oleh Kol. Bambang Sugeng selaku pemimpin Divisi III. Ia segera membentuk tiga wilayah pertahanan (wehkreise), yaitu:
• Wehkreise I meliputi wilayah Banyumas, Pekalongan, dan Wonosobo dikomandoi oleh Letkol. Muhammad Bahrum.
• Wehkreise II meliputi wilayah Kedu dan Kendal dikomandoi Letkol. Sarbini Martodiharjo.
• Wehkreise III meliputi wilayah Yogyakarta dikomandoi oleh Letkol. Soeharto.
Sebulan pasca Agresi Militer Belanda II, TNI mulai menyusun rencana guna memukul balik pasukan Belanda. Mereka mulai memutuskan jaringan telepon, menyerang iring-iringan militer Belanda, merusak rel kereta api, serta tindakan sabotase lainnya. Aksi tersebut memaksa Belanda untuk memperbanyak pos-pos yang justru menyebabkan kekuatan mereka menjadi terpecar. Dalam keadaan terpencar inilah, TNI mulai merencanakan serangan secara gerilya terhadap tentara Belanda.
Pada tanggal 18 Februari 1949, para petinggi militer dan petinggi sipil mengadakan rapat di lereng Gunung Sumbing. Pihak militer yang hadir dalam rapat tersebut diantaranya Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng, Letkol. Wiliater Hutagalung, dan Komandan Wehrkreise II Letkol. Sarbini. Sedangkan dari pihak sipil yang hadir diantaranya Gubernur Sipil K.R.M.T. Wongsonegoro, Bupati Sangidi, Residen Kedu Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking, dan Residen Banyumas R. Budiono.
Dalam pertemuan tersebut, Letkol Wiliater Hutagalung mengusulkan buah pemikirannya yang telah disetujui oleh Jenderal Sudirman dan kemudian dibahas bersama-sama, yaitu:
1) Serangan dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III dengan melibatkan Wehrkreise I, II, dan III.
2) Seluruh potensi militer dan potensi sipil di bawah Gubernur Militer III dikerahkan.
3) Serangan spektakuler harus diadakan terhadap satu kota besar di wilayah Divisi III.
4) Penyerangan harus berkoordinasi dengan Divisi II untuk memperoleh efek yang lebih besar.
5) Dunia internasional harus mengetahui adanya serangan ini. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari:
• Wakil Kepala Staf Angkatan Perang guna berkoordinasi dengan pemancar radio yang dimiliki oleh AURI dan Koordinator Pemerintah Pusat.
• Unit PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) Kementerian Pertahanan.
Tujuan utama skenario penyerangan ini adalah untuk menunjukkan eksistensi Pemerintah RI dan TNI kepada seluruh dunia. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka anggota UNCI (United Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing serta para pengamat militer harus melihat perwira-perwira yang berseragam TNI. Sementara itu, mengenai serangan spektakuler terhadap satu kota besar, Panglima Divisi III/GM III, yaitu Kol. Bambang Sugeng bersikeras bahwa kota besar tersebut adalah Yogyakarta. Berikut tiga alasan mengapa Ia memilih Yogyakarta sebagai sasaran utamanya:
1) Yogyakarta merupakan Ibu Kota RI. Maka, apabila kota tersebut dapat direbut meskipun hanya untuk beberapa jam saja, akan memberikan dampak yang besar terhadap perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda.
2) Banyaknya wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota delegasi UNCI (KTN) dan pengamat militer dari PBB.
3) Yogyakarta berada di bawah langsung wilayah Divisi III/GM III sehingga tidak perlu lagi mendapat persetujuan Panglima/GM lain dan semua pasukan telah memahami serta menguasai situasi di daerah operasi.
Rapat ini juga membahas pihak-pihak yang ikut terlibat dalam skenario penyerangan tersebut. Diantaranya, yaitu:
• Kolonel Wiyono selaku Pejabat Kepala Bagian PEPOLIT Kementerian Pertahanan yang juga berada di Gunung Sumbing akan ditugaskan mencari pemuda-pemuda berbadan tinggi dan tegap serta lancar berbahasa Belanda, Inggris atau Prancis. Pemuda tersebut akan dilengkapi seragam perwira TNI. Mereka harus sudah siap di dalam kota dan ketika penyerangan dimulai, mereka harus masuk ke Hotel Merdeka guna menunjukkan diri kepada anggota-anggota UNCI serta wartawan-wartawan asing yang berada di hotel tersebut.
• Hal terpenting kedua adalah dunia internasional harus mengetahui adanya Serangan TNI terhadap tentara Belanda, terutama terhadap Ibu Kota Yogyakarta. Untuk menyebarluaskan berita tersebut, maka Kol. T.B. Simatupang ditugaskan untuk menghubungi pemancar radio Angkatan Udara RI (AURI) di Playen, dekat Wonosari, agar setelah serangan dilancarkan berita mengenai penyerangan besar-besaran oleh TNI atas Yogyakarta dapat segera disiarkan.
• Dikhawatirkan apabila Belanda melihat bahwa Yogyakarta diserang secara besar-besaran, mereka akan mendatangkan bantuan militer dari kota-kota lain di Jawa Tengah, seperti Magelang, Semarang, dan Solo. Oleh karena itu, serangan di wilayah Divisi II harus berkordinasi dengan Panglima Divisi III sehingga operasi militer dapat dilakukan bersama dalam kurun waktu yang telah ditentukan, sehingga dapat memperlambat atau menghambat bantuan Belanda dari Solo. Kemudian Brigade IX yang dikomandoi Letkol. Achmad Yani diinstruksikan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta.
• Para pimpinan pemerintahan sipil, seperti Gubernur Wongsonegoro, Residen Budiono, Residen Salamun, Bupati Sangidi, dan Bupati Sumitro Kolopaking ditugaskan untuk mengkoordinasi persiapan dan pasokan perbekalan di wilayah masing-masing. Pada waktu bergerilya, para pejuang selalu berpindah tempat, sehingga sangat tergantung oleh bantuan rakyat dalam penyediaan perbekalan. Selama perang gerilya, Camat, Lurah, dan Kepala Desa sangat berperan dalam menyiapkan serta memasok perbekalan untuk para gerilyawan.
• Untuk pertolongan dan perawatan medis, diserahkan kepada PMI (Palang Merah Indonesia).
Selanjutnya, hasil rapat tersebut dikirimkan melalui kurir kepada pihak-pihak yang terlibat, termasuk Letkol. Soeharto. Setelah semua persiapan matang, diputuskanlah puncak serangan dengan fokus utama Ibu Kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 di bawah pimpinan Letkol. Soeharto, setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sultan Hamengku Buwono IX selaku Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pagi hari tanggal 1 Maret 1949, serangan secara besar-besaran dan serentak dilakukan di seluruh wilayah Divisi III/GM III dengan fokus serangan Kota Yogyakarta. Pada saat yang bersamaan, serangan juga dilakukan di wilayah Divisi II/GM II, dengan fokus penyerangan Kota Solo, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tidak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta.
Malam hari sebelum penyerangan, para pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. Pada pagi hari sekitar pukul 06.00, sirene dibunyikan, serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Kota Yogyakarta diserbu dari empat penjuru, yaitu dari arah selatan pasukan Sub-Wehrkreise (SWK) 102 dipimpin oleh Mayor Sardjono, dari arah barat pasukan SWK 103A dipimpin oleh H.N. Ventje Sumual, dari arah utara pasukan SWK 104 dipimpin oleh Mayor Soekasno, dan dari arah timur pasukan SWK 105 dipimpin oleh Mayor Soejono. Sementara itu, Letkol. Soeharto menempatkan pusat komandonya di sektor barat. TNI berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula, seluruh pasukan TNI ditarik mundur.
Serangan terhadap Kota Solo berhasil menahan tentara Belanda di Solo, sehingga tidak dapat mengirim bantuan dari Solo ke Yogyakarta. Sementara itu, penghadangan di jalur Magelang-Yogyakarta berhasil diterobos oleh tentara Belanda dan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 11.00.
2.3 Dampak dari Adanya Serangan Umum 1 Maret 1949
Dalam serangan ini, tercatat jumlah korban tewas dan luka-luka dari pihak Belanda sebanyak 200 orang. Sedangkan pihak Indonesia mencatat sekitar 300 tentara dan 53 anggota polisi gugur, dengan jumlah korban sipil tidak dapat dipastikan.
Usaha menyiarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 membuahkan hasil. Berita serangan tersebut terdengar hingga ke telinga delegasi Indonesia, L.N. Palar dalam sidang PBB di New York, Amerika Serikat. Sementara itu, Mr. Alexander Andries Maramis yang berkedudukan di New Delhi juga bergembira mendengar kabar serangan tersebut. Berita tersebut menjadi headlines di berbagai media cetak yang terbit di India. Tidak hanya itu, skenario KMB pun berubah, yang semula tidak menyertakan delegasi Indonesia, berubah dengan memperhitungkan kehadiran Indonesia dalam konferensi tersebut. Secara politis, Serangan Umum 1 Maret 1949 mampu menguatkan posisi tawar RI serta mempermalukan Belanda yang telah mengklaim bahwa Pemerintah RI dan TNI sudah tidak ada.
2.4 Perkembangan Kontroversi Tokoh Penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949
Hingga kini inisiator atau penggagas dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 masih menjadi kontroversi. Dalam autobiografinya, Soeharto menyebutkan bahwa ia menggagas serangan ini setelah mendengar siaran radio perihal pernyataan Belanda bahwa TNI sudah tidak esksis. Hal tersebut bertentangan dengan klaim Belanda bahwa hal tersebut tak hanya didengar oleh Soeharto, melainkan juga dengan Sultan Hamengku Buwono IX, Jenderal Sudirman, serta beberapa tokoh lain.
Selama pemerintahan Orde Baru, banyak propaganda yang dibuat untuk menyakinkan rakyat seolah-olah bahwa Soeharto inisiator serangan tersebut. Mulai dari buku-buku sekolah hingga film yang berjudul “Janur Kuning” (1979) dan “Serangan Fajar” (1981). Kedua film tersebut menempatkan Soeharto sebagai tokoh sentral. Namun, hal tersebut sangat kontradiktif dengan film yang lebih dahulu dirilis, yaitu film “Enam Djam di Jogja” (1951). Sementara itu, dalam buku Cuplikan Sejarah Perjuangan TNI AD yang diterbitkan oleh Dinas Sejarah Militer TNI AD tahun 1972 menyatakan bahwa Soeharto merupakan inisiator Serangan Umum 1 Maret 1949.
Hutagalung dalam buku Serangan Umum 1 Maret 1949 memaparkan keraguannya, sebab posisi Soeharto kala itu adalah komando wilayah pertahanan (Wehrkreise) III. Dimana wilayah pertahanan tersebut berada di bawah pimpinan Kol. Bambang Soegeng, Komandan Divisi III yang mengatasi brigade pimpinan Soeharto. Dugaannya, Soeharto bukanlah inisiator serangan tersebut, melainkan hanya menjadi bagian dari serangan ini dengan komondo dari atasannya, Kolonel Bambang Sugeng.
Versi lain menyatakan bahwa Sultan Hamengku Buwono IX adalah tokoh penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949. Pada artikel “Dua Versi Serangan Umum” yang terbit di Kompas 1 Maret 1999, Atmakusumah menyebutkan bahwa Sultan merasa prihatin terhadap semangat juang rakyat yang kian menurun. Untuk itu, Ia merasa perlu menciptakan kejutan untuk membangkitkan semangat juang. Setelah mendengar siaran radio tentang perundingan Indonesia-Belanda, Sultan Hamengku Buwono IX berpikir itulah sebuah kesempatan untuk mengembalikan semangat juang serta menunjukkan eksistensi RI di mata dunia. Kemudian, Ia mengirimkan utusan untuk menyampaikan siasatnya kepada Jenderal Sudirman. Oleh Jenderal Sudirman, Sultan Hamengku Buwono IX diminta bertemu dengan komandan gerilya di daerahnya, yaitu Letkol. Soeharto.
Kesaksian berbeda juga digambarkan oleh Abdul Latief yang merupakan anak buah Letkol. Soeharto. Dalam tulisannya “Laporan tentang Dewan Jenderal kepada Jenderal Soeharto” yang diunggah pada laman penerbit HastaMitra, mengatakan jika Letkol. Soeharto beserta pengawal dan ajudannya sedang bersantai makan soto babat.
2.5 Fakta-Fakta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949
Meskipun Serangan Umum 1 Maret 1949 terkesan sangar dan penuh rasa keberanian, tetapi ada kisa unik dibaliknya. Pada 28 Februari 1949, pasukan yang dipimpin Letnan Komarudin melakukan serangan terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan, lantaran Ia salah menghitung tanggal. Namun, pihak Belanda mengira serangan tersebut hanyalah serangan kecil dan mudah diatasi. Meski demikian, hal tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa Belanda akan mengetahui rencana penyerangan yang sesungguhnya.
Selain itu, dibalik suksesnya Serangan Umum 1 Maret 1949, para pemuda yang masih duduk di bangku sekolah juga berperan dalam serangan tersebut. Para pemuda tersebut ditugaskan sebagai telik sandi yang bertugas memberikan informasi kepada TNI tentang situasi dan kekuatan tentara Belanda di dalam Kota Yogyakarta.
2.6 Sistem yang Digunakan pada Serangan Umum 1 Maret 1949
Dalam Perintah Siasatnya, Jenderal Sudirman mengubah strategi pertahanan kemananan dari sistem linear menjadi sistem wehrkreise atau daerah pertahanan yang kemudian dilengkapi dengan taktik perang gerilya. Hal tersebut Ia lakukan karena sistem pertahanan linear pada Agresi Militer Belanda I dianggap kurang efektif, sehingga tentara Belanda dapat menerobos pertahanan TNI. Alhasil pada Serangan Umum 1 Maret 1949 ini, digunakanlah sistem wehrkreise yang akan dilengkapi dengan taktik perang gerilya.
Pada dasarnya, sistem wehrkreise merupakan adaptasi dari sistem serupa yang diterapkan Jerman dalam PD II. Dalam sistem ini, wilayah pertempurannya terbagi-bagi dalam lingkaran-lingkaran (bahasa Jerman, kreise: lingkaran) yang dapat mengadakan pertahanan (bahasa Jerman, wehr: pertahanan) secara berdiri sendiri. Sistem ini biasanya dipimpin oleh seorang komandan, dimana komandan tersebut diberikan independensi seluas-luasnya untuk mengatur strategi. Sistem ini kemudian disempurnakan dengan diberlakukannya pemerintahan militer, sehingga Brigade X yang bertanggungjawab atas keamanan Kota Yogyakarta berubah menjadi Wehrkreise III (WK III). WK III sendiri dipimpin oleh Letkol. Soeharto dan kemudian dibagi menjadi 7 Sub-Wehrkreise (SWK), yaitu SWK 101, SWK 102, SWK 103 A, SWK 103 B, SWK 104, SWK 105, SWK 106. SWK 101 merupakan sub yang bertugas sebagai spionase intelijen yang memberikan informasi tentang situasi dan kondisi tentara Belanda di dalam Kota Yogyakarta.
Sementara itu, taktik perang gerilya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 menggunakan metode penyerangan serbu dan lari (hit and run). Pasukan gerilya tersebut disusun dalam kelompok-kelompok kecil dan tersebar. Selain itu, perlawanan yang dilakukan tidak mengenal waktu operasi karena perlawanan ini dilakukan secara kontinu, sehingga menyebabkan fokus tentara Belanda menjadi terpecah. Pihak Belanda sendiri menggambarkan Serangan Umum 1 Maret 1949 sebagai serangan pagi buta mendadak.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan serangan balasan atas Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada tanggal 19 Desember 1948. Serangan besar-besaran ini melibatkan TNI, pemerintah sipil serta rakyat dengan Ibu Kota Yogyakarta sebagai sasaran utamanya. Serangan ini menggunakan sistem wehrkreise dan dilengkapi dengan taktik perang gerilya. Tujuan utama serangan ini adalah untuk menunjukkan eksistensi Pemerintah RI dan TNI di mata dunia serta memutarbalikkan propaganda Belanda yang menyatakan bahwa Pemerintah RI dan TNI sudah tidak ada lagi. Serangan ini pecah pada pagi hari tanggal 1 Maret 1949 dan berlangsung selama 6 jam. Serangan ini berakhir dengan kemenangan di pihak Indonesia atas Belanda. Meskipun pada serangan ini jumlah korban lebih kecil dan lama pertempuran relatif singkat dibandingkan pertempuran lainnya, tetapi nilai politis dalam serangan ini mampu memperkuat posisi tawar Indonesia di mata dunia, yang kala itu PBB sedang mengadakan perundingan mengenai gencatan senjata Indonesia-Belanda. Hingga kini, tokoh yang menjadi inisiator atau penggagas serangan tersebut masih menjadi kontroversi.
3.2 Saran
Di era globalisasi ini, kepada pembaca khususnya para pemuda, perlu membaca lebih banyak serta berpikir lebih kritis mengenai sejarah bangsa ini. Minimnya minat baca rakyat Indonesia serta adanya oknum-oknum yang berusaha melakukan penyelewangan sejarah bangsa ini semakin memperparah keadaan. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar membaca sejarah tidak hanya melalui internet saja, tetapi juga bisa melalui buku-buku sejarah, baik dengan membeli maupun meminjam di perpustakaan setempat. Demikian saran yang diberikan penulis, karena artikel sejarah yang terdapat di internet aktualitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terkait dengan makalah ini, penulis tentunya masih menyadari jika makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari para pembaca yang sekiranya dapat membangun dalam penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, I. C. (2021, Februari 3). Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949: Kronologi, Tokoh, & Kontroversi. Diambil kembali dari Tirto.id: https://tirto.id/sejarah-serangan-umum-1-maret-1949-kronologi-tokoh-kontroversi-f9TU
Fadillah, R. (2014, Maret 1). Kisah Lucu Letnan Komarudin Salah Lihat Tanggal, Serang Belanda. Diambil kembali dari Merdeka.com: https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-lucu-letnan-komarudin-salah-lihat-tanggal-serang-belanda.html
Gitiyarko, V. (2021, Maret 1). Serangan Umum 1 Maret 1949. Diambil kembali dari Kompas Pedia: https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/serangan-umum-1-maret-1949
Maulana, D. F. (2018, Desember 19). Kontroversi Serangan Umum 1 Maret: Kekuatan Propaganda Orde Baru. Diambil kembali dari Kompasiana: https://www.kompasiana.com/daffafakhrimaulana/5c193541aeebe101ca6032e7/kontroversi-serangan-umum-1-maret-kekuatan-propaganda-orde-baru
One. (2021, Maret 2). Peran Mata-mata Cilik di Balik Suksesnya Serangan Umum 1 Maret 1949. Diambil kembali dari Minews: https://www.minews.id/kisah/peran-mata-mata-cilik-di-balik-suksesnya-serangan-umum-1-maret-1949
Pramudita, A. A. (2019). Pembagian Tugas dalam Wehrkreise III. Peranan Tentara Pelajar di Kulon Progo dalam Perang Kemerdekaan II 1948-1949, 1-22.
Welianto, A. (2020, Januari 26). Perang Gerilya, Taktik Perang Melawan Penjajah. Diambil kembali dari Kompas.com: https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/26/080000069/perang-gerilya-taktik-perang-melawan-penjajah?page=all
Wikipedia. (2019, Maret 24). Wehrkreise. Diambil kembali dari Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Wehrkreise
Wikipedia. (2021, Januari 7). Agresi Militer Belanda II. Diambil kembali dari Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_II
Wikipedia. (2021, Januari 3). Serangan Umum 1 Maret 1949. Diambil kembali dari Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Serangan_Umum_1_Maret_1949

Komentar
Posting Komentar
Mohon gunakan kata-kata bijak dalam berkomentar!